Showing posts with label PEDIATRI. Show all posts
Showing posts with label PEDIATRI. Show all posts

Wednesday, 20 January 2021

KEJANG DEMAM

     DEFINISI 

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38oC) tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat, gangguan elektrolit atau metabolik lain. Kejang disertai demam pada bayi berusia kurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam kejang demam.

Kejang demam sederhana adalah kejang yang berlangsung kurang dari 15 menit, bersifat umum serta tidak berulang dalam 24 jam. Kejang demam sederhana merupakan 80% di antara seluruh kejang demam.

Kejang demam disebut kompleks jika kejang berlangsung lebih dari 15 menit, bersifat fokal atau parsial satu sisi kejang umum didahului kejang fokal dan berulang atau lebih dari satu kali dalam 24 jam.

Terdapat interaksi 3 faktor sebagai penyebab kejang demam, yaitu (I) imaturitas otak dan termoregulator, (2) demam, dimana kebutuhan oskdigen meningkat, dan (3) predisposisi genetic: > 7 lokus kromosom (poligenik, autosomal dominan).


EPIDEMIOLOGI

Kejang demam adalah gangguan neurologis yang paling umum pada kelompok usia anak, kejang demam mempengaruhi 2-5% anak-anak antara usia 6 bulan dan 5 tahun di Amerika serikat dan Eropa barat dengan insiden puncak antara 12 dan 18 bulan. Meskipun kejang demam terlihat pada semua kelompok etnis, kejang demam lebih sering terlihat pada populasi Asia (5-10% anak-anak India dan 6-9% anak-anak Jepang). Rasio laki-laki dan perempuan adalah sekitar 1.6 sampai 1.8. Kondisi  ini lebih sering terjadi pada anak-anak dan termasuk dalam status ekonomi yang lebih rendah, yang kemungkinan disebabkan karena akses ke perawatan medis yang tidak memadai.


FAKTOR RISIKO

Faktor risiko dari kejang demam yaitu:

·        Usia kurang dari 18 bulan

·        Durasi demam < 1 jam sebelum onset kejang

·        Temperature 40oC

·        Infeksi virus

·        Riwayat keluarga dengan kejang demam

·        Vaksinasi

·        Defisiensi iron dan zinc 


KLASIFIKASI

1.     Kejang demam sederhana (simple febrile seizure)

Kejang demam yang berlangsung singkat (kurang dari 15 menit, bentuk kejang umum (tonik dan atau klonik), serta tidak berulang dalam waktu 24 jam

Kejang demam sedderhana merupakan 80% di antara seluruh kejang demam

Sebagian besar kejang demam sederhana berlangsung kurang dari 5 menit dan berhenti sendiri

 

2.     Kejang demam kompleks (complex febrile seizure)

Kejang demam dengan salah satu ciri berikut:

-       Kejang lama (>15 menit)

-       Kejang fokal atau parsial satu sisi atau kejang umum didahului kejang parsial

-       Berulang atau lebih dari 1 kali dalam waktu 24 jam

Keterangan:

-       Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit atau kehang berulang lebih dari 2 kali dan di antara bangkitan kejang anak tidak sdar. Kejang lama terjadi pada 8% kejang demam

-       Kejang fokal adalah kejang parsial satu sisi atau kejang umum yang didahului kejang parsial

-    Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau lebih dalam 1 hari, dan di antara 2 bangkitan kejang anak sadar. Kejang berulang terjadi pada 16% anak yang mengalami kejang demam


No.

Klinis

Kejang demam sederhana

Kejang demam kompleks

1

Durasi

< 15 menit

≥ 15 menit

2

Tipe kejang

Umum

Umum/fokal

3

Berulang dalam satu episode

1 kali

>1 kali

4

Deficit neurologis

-

±

5

Riwayat keluarga kejang demam

±

±

6

Riwayat keluarga kejang tanpa demam

±

±

7

abnormalitas neurologis sebelumnya

±

±


MANIFESTASI KLINIS

Kejang demam biasanya terjadi pada awal demam. Sering diperkirakan bahwa cepatnya peningkatan temperatur merupakan pencetus untuk terjadinya kejang. Umumnya serangan tonik-klonik, awalnya dapat berupa menangis, kemudian tidak sadar dan timbul kekakuan otot. Selama fase tonik, mungkin disertai henti nafas dan inkontinensia. Kemudian diikuti fase klonik berulang, ritmik dan akhirnya anak setelah kejang letargi atau tidur.

Bentuk kejang lain dapat juga terjadi seperti mata terbalik ke atas dengan disertai kekakuan atau kelemahan, gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekakuan atau hanya sentakan atau kekakuan fokal. Serangan dalam bentuk absens atau mioklonik sangat jarang.

Sebagian besar kejang berlangsung kurang dari 5 menit dan kurang dari 8% berlangsung lebih dari 15 menit dan 4% kejang berlangsung lebih dari 30 menit. Jadi umumnya anak tidak kejang lagi pada waktu dibawa ke dokter. Bila anak kejang lagi perlu diidentifikasi apakah ada penyakit lain yang memerlukan pengobatan tersendiri. Perlu juga diketahui mengenai pengobatan sebelumnya, ada tidaknya trauma, perkembangan psikomotor dan riwayat keluarga dengan epilepsi atau kejang demam.

DIAGNOSIS

Anamnesis

-          Adanya kejang, jenis kejang, keadaran, lama kejang

-    Suhu sebelum/saat kejang, frekuensi dalam 24 jam, interval, keadaan anak pasca kejang, penyabab demam di luar infeksi susunan saraf pusat (gejala infeksi saluran napas akut/ISPA, infeksi saluran kemih/ISK, otitis media akut/OMA, dll)

-       Riwayat perkembangan, riwayat kejang demam dan epilepsy dalam keluarga

-  Singkirkan penyebab kejang yang lain (misalnya diare/muntah yang mengakibatkan gangguan elektrolit, sesak yang mengakibatkan hipoksemia, asupan kurang yng dapat menyebabkan hipoglikemia)

Pemeriksaan fisik

-          Kesadaran: apakah terdapat penurunan kesadaran

-          Suhu tubuh: apakah terdapat demam

-          Tanda rangsang meningeal: kaku kuduk, brudzinski I dan II, Kernique, Laseque

-          Pemeriksaan nervus kranial

-          Tanda peningkatan tekanan intracranial: ubun-ubun besar (UUB) menonjol, papil edema

-          tanda infeksi di luar SSP: ISP, OMA, ISK, dll

-          pemeriksaan neurologi: tonus, motorik, reflex fisiologis, reflex patologis


Pemeriksaan penunjang

-    Pemeriksaan penunjang dilakukan sesuai indikasi untuk mencari penyebab demam atau kejang. Pemeriksaan dapat meliputi darah perifer lengkap, gula darah, elektrolit, urinalisis dan biakan darah, urin atau feses

-  Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan/menyingkirkan kemungkinan meningitis. Pada bayi kecil sulit untuk menegakkan atau  menyingkirkan diagnosis meningitis karena manifestasi klinisnya tidak jelas. Jika yakin bukan meningitis secara klinis tidak perlu dilakukan pungsi lumbal. Pungsi lumbal dianjurkan pada :

o   Bayi usia kurang dari 12 bulan: sangat dianjurkan

o   Bayi suia 12-18 bulan: dianjurkanbayi usia > 18 bulan tidak rutin dilakun 

-    Pemeriksaan eletroensefalografi (EEG) tidak direkomendasikan. EEG masih dapat dilakukan pada kejang demam yang tidak khas, misalnya: kejang demam kompleks pada anak berusia lebih dari 6 tahun atau kejang demam fokal

-          Pencitraan (CT-Scan atau MRI kepala) dilakukan hanya jika ada indikasi, misalnya:

o   Kelainan neurologi fokal yang menetap (hemiparesis) atau kemungkinan adanya lesi structural di otak (mikrosefali, spastisitas)

o   Terdapat tanda peningkatan tekanan intracranial (kesadaran menurun, muntah berulang, UUB menonjol, paresis nervus VI, edema papil)


TATALAKSANA

Medikamentosa

Pengobatan medikamentosa saat kejang dapat dilihat pada algoritme tatalaksana kejang. Saat ini lebih diutamakan pengobatan profilaksis intermitten pada saat demam berupa:

-            Antipiretik

Parasetamol 10-15 mg/kgBB/kali diberikan 4 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali atau ibuprofen 5-10 mg/kgBB/kali, 3-4 kali sehari

-            Anti kejang

Diazepam oral dengan dosis 0.3 mg/kgBB setiap 8 jam atau diazepam rektal dosis 0.5 mg/kgBB setiap 8 jam pada saat suhu tubuh >38oC. Terdapat efek samping berupa ataksia, iritabel dan sedasi yang cukup berat pada 25-39% kasus.

-            Pengobatan jangka panjang/rumatan

Pengobatan jangka panjang hanya diberikan jika kejang demam menunjukkan ciri sebagai berikut (salah satu):

-          Kejang lama > 15 menit

-       Kelainan neurologi yang nyata sebelum/sesudah kejang : hemiparesis, paresis Todd, palsi serebral, retardasi mental, hidrosefalus

-          Kejang fokal

Pengobatan jangka panjang: fenobarbital (dosis 3-4 mg/kgBB/hari dibagi 1-2 dosis) atau asam valproate (dosis 15-40 mg/kgBB/hari dibagi 2-3 dosis) pemberian obat ini efektif dalam menurunkan risiko berulangnya kejang (level I). pengobatan diberikan selama 1 tahun bebas kejang. Kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan.

Indikasi rawat

-            Kejang demam kompleks

-            Hiperpireksia

-            Usia di bawah 6 bulan

-            Kejang demam pertama kali

-            Terdapat kelainan neurologis

Kemungkinan berulangnya kejang demam

Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor risiko berulangnya kejang demam adalah:

-            Riwayat kejang demam dalam keluarga

-            Usia kurang dari 12 bulan

-            Temperature yang rendah saat kejang

-            Cepatnya kejang setelah demam

Jika seluruh faktor di atas ada, kemungkinan berulangnya kejang demam adalah 80%. Sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut, kemungkinan berulangnya kejang demam hanya 10-15%. Kemungkinan berulangnya kejang demam paling ebsar pada tahun pertama.

Faktor risiko terjadi epilepsi

-            Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam pertama

-            Kejang demam kompleks

-            Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung

Masing-masing faktor risiko meningkatkan kemungkinan kejadian epilepsi sampai 4-6%. Kombinasi dari faktor risiko tersebut meningkatkan kemungkinan kepilepsi menjadi 10%-49%. Kemungkinan menjadi epilepsi tidak dapat dicegah dengan pemberian obat rumat pada kejang.


PROGNOSIS

Prognosis kejang demam secara umum sangat baik. Kejadian kecatatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan. Pekembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada pasien yang sebelumnya normal. Kelainan neurologis dapat terjadi pada kasus kejang lama atau kejang berulang, baik umum maupun fokal. Suatu studi melaporkan terdapat gangguan recognition memory pad anak yang mengalami kejang lama. Hal tersebut menegaskan pentingnya terminasi kejang demam yang berpotensi menjadi kejang lama.

Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor risiko berulangnya kejang demam adalah:

-          Riwayat kejang demam atau epilepsi dalam keluarga

-          Usia kurang dari 12 bulan

-          Suhu tubuh kurang dari 39o C saat kejang

-          Interval waktu yang singkat antara awitan demam denagn terjadinya kejang

-          Apabila kejang demam pertama merupakan kejang demam kompleks


EDUKASI PADA ORANG TUA

        Kejang merupakan peristiwa yang menakutkan bagi setiap orang tuaa. Pada saat kejang sebagian            besar orang tua beranggapan bahwa anaknya akan meninggal. Ekcemasan tersebut harus dikurangi         dengan cara diantaranya:

1.     Meyakinkan orang tua bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis baik\

2.     Memberitahukan cara penanganan kejang

3.     Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang berulang

4.    Pemberian obat profilaksis untuk mencegah berulangnya kejang memang efektif, tetapi harus diingat adanya efek samping obat.

Friday, 19 May 2017

DIAGNOSIS ASMA PADA ANAK

Asma dapat berkembang dalam beberapa bulan pertama kehidupan, tetapi pada bayi seringkali asma sulit didiagnosis sehingga diagnosis pasti baru dapat dibuat saat anak mencapai usia yang lebih tua. perjalanan penyakit asma dapat menunjukkan berbagai macam manifestasi klinis yang tidak spesifik dan heterogen,baik di antara beberapa individu maupun pada individu yang sama.

Kesulitan menegakkan diagnosis pada asma adalah sebagai berikut walaupun terdapat riwayat dan gambaran klinis yang konsisten dan mengarah pada asma, gambaran klinis yang serupa juga dapat ditemukan pada penyakit lain. selain itu belum ada pemeriksaan yang spesifik untuk asma. oleh sebab itu sebelum menegakkan diagnosis pasti asma, penyakit lain harus disingkirkan terlebih dahulu. Pada anamnesis, harus dipastikan apakah batuk ataukah mengi yang merupakan gejala utama yang dikeluhkan pasien, sebab asma adalah penyakit yang terutama ditandai oleh mengi, sedangkan rinosinusitis (yang merupakan salah satu diagnosis banding asma) terutama ditandai oleh batuk.

DEFINISI ASMA
Dari waktu ke waktu, definisi asma mengalami beberapa kali perubahan akibat berkembangnya pengetahuan dan pemahaman mengenai patologi, patofisiologi, imunologi dan genetik asma. Akan tetapi, mekanisme yang mendasari penyakit ini masih belum diketahui secara keseluruhan, khususnya pada anak.

Pada tahun 1950, dalam simposium CIBA, asma didefenisikan sebagai penyakit yang ditandai oleh obstruksi saluran napas yang reversibel, yang dapat teratasi secara spontan atau dengan pengobatan.

Pada dekade berikutnya, asma dianggap sebagai penyakit episodik yang ditandai oleh adanya obstruski aliran udara akibat peningkatan respons trakea dan bronkus terhadap berbagai stimuli, dengan manifestasi berupa penyempitan saluran napas yang luas, yang kemudian berubah derajatnya, baik secara spontan maupun dengan pengobatan. Dengan definisi ini konsep pengobatan lebih ditujukan untuk mengatasi bronkospasme yang terjadi.

KLASIFIKASI ASMA
Dalam GINA 2006, asma diklasifikasikan berdasarkan etiologi, derajat penyakit asma, serta pola obstruksi aliran udara di saluran napas. Walaupun berbagai usaha telah dilakukan, klasifikasi berdasarkan etiologi sulit digunakan karena terdapat kesulitan dalam penentuan etiologi spesifik dari sekitar pasien.

Derajat penyakit asma, ditentukan berdasarkan gabungan penilaian gambaran klinis, jumlah penggunaan agonis B2 untuk mengatasi gejala dan pemeriksaan fungsi paru pada evaluasi awal pasien.

Pembagian derajat penyakit asma menurut GINA adalah sebagai berikut :
1. Intermitten
  • Gejala kurang dari 1 kali/minggu
  • Serangan singkat
  • Gejala nokturnal tidak lebih dari 2 kali/bulan (≤ 2 kali)
  • FEV-1 ≥ 80% predicted atau PEF ≥ 80% nilai terbaik individu
  • Variabilitas PEF atau FEV1 < 20%
2. Persisten ringan
  • Gejala lebih dari 1 kali/minggu tapi kurang dari 1 kali/hari
  • Serangan dapat mengganggu aktivitas dan tidur
  • Gejala nokturnal > 2 kali/bulan
  • FEV1 ≥ 80% predicted  atau PEF ≥ 80% nilai terbaik individu
  • Variabilitas PEF atau PEV1 20-30%
3. Persisten sedang
  • Gejala terjadi setiap hari
  • Serangan dapat mengganggu aktivitas dan tidur
  • Gejala nokturnal > 1 kali dalam seminggu
  • Menggunakan agonis β2 kerja pendek setiap hari
  • FEV-1 60-80% predicted atau PEF 60-8-% nilai terbaik individu
  • Variabiltas PEF atau FEV1 > 30%
4. Persisten Berat
  • Gejala terjadi setiap hari
  • Serangan sering terjadi
  • Gejala Asma noktunal sering terjadi
  • FEV-1 ≤ 60% predicted atau PEF ≤ 60% nilai terbaik individu
  • Variabilitas PEF atau FEV1 >  30%
Pembagian lain derajat penyakit asma dibuat oleh Phelan dkk (dikutip dari Konsensus Pediatri Internasional III tahun 1998). Klasifikasi ini membagi derajat asma menjadi 3 , yaitu :

1. Asma episodik jarang
Merupakan 75% populasi asma pada anak. ditandai oleh adanya episode <1 kali tiap 4-6 minggu, mengi setelah aktivitas berat, tidak terdapat gejala di antara episode serangan dan fungsi paru normal di antara serangan. Terapi profilaksis tidak dibutuhkan pada kelompok ini.

2. Asma episode sering
Merupakan 20% populasi asma. Ditandai oleh frekuensi serangan yang lebih sering dari timbulnya mengi pada aktivitas sedang, tetapi dapat dicegah dengan pemberian agonis β2.  Gejala terjadi kurang dari 1x / minggu dan fungsi paru di antara serangan normal atau hampir normal. Terapi profilaksis biasanya dibutuhkan.

3. Asma persisten
Terjadi pada sekitar 5% anak asma. Ditandai oleh seringnya episode akut, mengi pada aktivitas ringan dan di antara gejala interval dibutuhkan agonis β2 lebih dari 3 kali/ minggu, karena anak terbangun di malam hari atau dada terasa berat di pagi hari. Terapi profilaksis sangat dibutuhkan.

Parameter klinis, kebutuhan obat dan faal paru
Asma episodic jarang (asma ringan)
Asma episodic jarang (Asma sedang)
Asma persisten (Asma berat)
Frekuensi sedang
< 1x/ bulan
>1x/bulan
Sering
Lama serangan
<1 minggu/ bulan
≥ 1 minggu
Hampir sepanjang tahun, tidak ada remisi
Di antara serangan
Tanpa gejala
Sering ada gejala
Gejala siang dan malam
Tidur dan aktivitas

Sering terganggu
Sangat terganggu
Pemeriksaan fisik di luar serangan
Normal (tidak ada kelainan)
Mungkin terganggu (ada kelainan)
Tidak pernah normal
Obat pengendali (Anti inflamasi)
Tidak perlu
Nonsteroid/steroid berupa dosis rendah
Steroid hirupan/oral
Uji faal paru (di luar serangan)
PEF/FEV1 > 80%
PEV1/FEV1 60-80%
PEF/FEV1 <60% variabilitas 20-30%
Variabilitas faal paru
Variabilitas >15%
Variabilitas >30%
Variabilitas >50%


MANIFESTASI KLINIS

Anamensis
Anamnesis harus dilakukan dengan cermat agar didapatkan riwayat penyakit yang akurat mengenai gejala sulit bernapas, mengi atau dada terasa berat yang bersifat episodik dan berkaitan dengan musim, serta adanya riwayat asma atau penyakit atopi pada anggota keluarga. Walaupun informasi akurat mengenai hal-hal tersebut tidak mudah didapat. beberapa pertanyaan berikut ini sangat berguna dalam pertimbangan diagnosis asma (consider diagnosis of asthma).
  • Apakah anak mengalami serangan mengi atau serangan mengi berulang ?
  • Apakah anak sering terganggu oleh batuk pada malam hari ?
  • Apakah anak mengalami mengi atau batuk setelah berolahraga ?
  • Apakah anak mengalami gejala mengi, dada terasa sesak atau batuk setelah terpajan alergen atau polutan?
  • Apakah jika mengalami pilek, anak membutuhkan >10 hari untuk sembuh ?
  • Apakah gejala klinis membaik setelah pemberian pengobatan anti asma?
Setelah menetapkan apakah seorang anak benar-benar mengalami mengi atau batuk yang hebat, langkah berikutnya adalah mengidentifikasi pola dan derajat gejala. Pola gejala harus dibedakan apakah gejala tersebut timbul pada saat infeksi virus atau timbul tersendiri di antara batuk pilek biasa. Apabila mengi dan batuk hebat tersebut terjadi tidak bersamaan dengan infeksi virus, selanjutnya harus ditentukan frekuensi dan pencetus gejala. pencetus yang spesifik dapat berupa aktivitas, emosi (misalnya menangis atau tertawa), debu, pajanan terhadap bulu binatang, perubahan suhu lingkungan atau cuaca, aerosol/aroma yang tajam, asap rokok atau asap dari perapian. derajat berat ringannya gejala harus ditentukan untuk mengarahkan pengobatan yang akan diberikan.

Dalam GINA 2006 dinyatakan bahwa anak merupakan kelompok yang sulit untuk didiagnosis. Hal ini disebabkan karena mengi episodik dan batuk merupakan gejala yang sering ditemukan pada penyakit anak terutama pada usia <3 tahun. Semakin muda usia anak, semakin banyak diagnosis banding untuk menjelaskan mengi berulang/ rekuren. diagnosis banding untuk bayi adalah fibrosis kistik, kelainan jantung kongenital, malformasi kongenital yang menyebabkan penyempitan aliran udara intratoraks dan aspirasi benda asing. Apabila awitan timbul pada masa neonatus, disertai gagal tumbuh, muntah dan ditemukan tanda kelainan kardiopulmonal, maka diperlukan pemeriksaan lanjutan, seperti uji keringat (sweat test) untuk menyingkirkan fibrosis kistik, Pemeriksaan fungsi imun, pemeriksaan untuk menilai adanya refluks, serta foto thoraks.

Pada anak dengan gejala batuk rekuren dan mengi, ada beberapa hal yang harus ditanyakan untuk memperkirakan diagnosis banding, yaitu:

  • Apakah anak/orang tua benar-benar menjelaskan apa yang disebut mengi?
  • Apakah terdapat gejala saluran napas atas : mendengkur, rinitis, rinosinusitis?
  • Apakah gejala timbul sejak hari pertama kehidupan?
  • Apakah awitan gejala sangat tiba-tiba/mendadak?
  • Apakah terdapat batuk berdahak yang kronik atau disertai produk sputum?
  • Apakah mengi memburuk atau anak menjadi iritabel setelah makan dan bertambah buruk jika berbaring, muntah, atau tersedak ?
  • Apakah terdapat gejala atau gambaran klinis kelainan imunodefisiensi sistemik ?
  • Apakah gejala berlangsung kontinu dan tidak berkurang/membaik?
Meskipun tidak semua mengi adalah asma, tetapi asma merupakan salah satu penyebab mengi. Maka, mungkin lebih tepat jika semua mengi adalah asma sampai dibuktikan bukan asma.

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik pada umumnya tidak ditemukan kelainan saat pasien tidak mengalami serangan. Pada sebagian kecil pasien  yang derajat asmanya lebih berat, dapat dijumpai mengi di luar serangan.
Dengan adanya kesulitan ini, diagnosis asma pada bayi dan anak kecil (dibawah usia 5 tahun) hanya merupakan diagnosis klinis (penilaian hanya berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisik dan respons terhadap pengobatan). Sebab, pada kelompok usia ini, tes fungsi paru atau pemeriksaan untuk mengetahui adanya hiperresponsivitas saluran napas tidak mungkin dilakukan dalam praktek sehari-hari. Tidak jarang, asma pada anak didagnosis sebagai varian bronkitis sehingga mendapatkan pengobatan yang tidak tepat dan tidak efektif, yaitu berupa pemberian antibiotika dan obat batuk.

Berdasarkan berbagai hal tersebut di atas, bayi dan anak dibawah 5 tahun dengan batuk rekuren dan/mengi dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu :
1. Normal
2. Salah satu varian spektrum asma
3. Penyakit atau keadaan serius yang membutuhkan diagnosis dan terapi yang spesifik

Pada PNAA 2004, dinyatakan bahwa mengi berulang dan/atau batuk kronik berulang merupakan titik awal menuju diagnosis. Kemungkinan asma perlu dipikirkan pada anak yang hanya menunjukkan batuk sebagai satu-satunya gejala dan pada pemeriksaan fisis tidak ditemukan mengi, sesak dan lain-lain. Pada anak yang tampak sehat dengan batuk malam hari yang rekuren, asma harus dipertimbangkan sebagai probable diagnosis. Beberapa anak anak menunjukkan gejala setelah berolahraga. Dengan demikian, jika terdapat keraguan dalam mendiagnosis asma ringan pada seorang anak dapat dilakukan tes dengan berolahraga (berlari cepat selama 6 menit).

Eksaserbasi (Serangan) asma
Eksaserbasi (serangan) asma adalah episode perburukan gejala-gejala asma secara progresif. Gejala yang dimasksud adalah sesak napas, batu, mengi, dada rasa tertekan atau berbagai kombinasi gejala tersebut. Pada umumnya, eksaserbasi disertai distress pernapasan. Serangan asma ditandai oleh penurunan PEF atau FEV. Pengukuran ini merupakan indikator yang lebih dapat dipercaya daripada penilaian berdasarkan gejala.


Source : Buku Ajar Respirologi  Anak. Edisi I. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta; 2013