Showing posts with label PATOLOGI. Show all posts
Showing posts with label PATOLOGI. Show all posts

Saturday, 19 November 2016

HEMOSTASIS DAN TROMBOSIS

Hemostasis normal terdiri atas suatu seri rangkaian yang teratur untuk mempertahankan darah tetap dalam keadaan cair dan bebas bekuan di dalam pembuluh darah normal, serta dapat membentuk plak hemostasis lokal pada lokasi jejas pembuluh darah.

Trombosis merupakan hemostasis yang patologis, yaitu pembentukan bekuan darah (trombus) di dalam pembuluh darah yang utuh. baik hemostasis maupun trombosis terdiri atas tiga elemen, yaitu dinding pembuluh darah, trombosit dan kaskade pembekuan darah.

Hemostasis normal

  • Jejas pembuluh darah menyebabkan vasokonstriksi arterioral yang transien melalui mekanisme refleks neurogenik, yang diperkuat oleh sekresi lokal endotelin (suatu vasokonstriktor kuat yang berasal dari endotel). Efek ini berkurang, akan tetapi perdarahan akan segera muncul kembali bila trombosit dan faktor-faktor pembekuan tidak diaktivasi.
  • Jejas endotel memaparkan matriks ekstrasel subendotel yang sangat trombogenik, mendorong adhesi, aktivasi dan agregasi trombosit. Pembentukn plak trombosit yang pertama disebut hemostasis primer.
  • Jejas endotel juga memaparkan faktor jaringan (disebut juga faktor III atau tromboplastin), suatu glikoprtotein prokoagulan yang terikat di membran yang disintesis oleh sel-sel endotelial. faktor jaringan yang terpapar, bekerjasama dengan faktor VII, merupakan pemicu kaskade pembekuan darah utama in vivo. Hal ini akhirnya menimbulkan aktivasi trombin, yang memiliki beberapa peran dalam pengaturan pembekuan.
  • Trombin yang teraktivasi meningkatkan pembentukan bekuan fibrin yang tidak larut dengan memecah fibrinogen. trombin juga merupakan aktivator kuat untuk trombosit tambahan, yang berfungsi memperkuat plak hemostatik. Urutan kejadian ini disebut hemostasis sekunder, dengan cara pembentukan bekuan yang stabil, yang mampu mencegah berlanjutnya hemoragi.
  • Setelah perdarahan terkontrol, mekanisme kontra-regulasi (misalnya faktor-faktor yang menyebabkan fibrinolisis, seperti tissue-type plasminogen activator) bekerja untuk memastikan bahwa pembentukan bekuan hnaya terbatas pada tempat jejas saja.

Endotel. Sel-sel endotel merupakan regulator utama dari hemostasis. keseimbangan antara aktivasi anti-dan protrombotik endotelial menentukan apakah akan terjadi pembentukan, pembesaran atau pelarutan trombus. sel-sel endotel normal mengekspresikan sejumlah faktor antikoagulan yang menghambat agregasi dan koagulasi trombosit serta menyebabkan fibrinolisis. akan tetapi setelah jejas atau aktivasi, keseimbangan ini bergeser dan sel-sel endotel mendapatkan berbagai aktivitas prokoagulan. Selain oleh jejas/trauma/endotel dapat diaktivasi oleh patigen mikrobila, daya-daya hemodinamil dan sejumlah mediator proinflamasi.

Sifat-sifat Antitombotik endotelial normal
Efek inhibisi pada trombosit, endotel yang utuh mencegah trombosit (dan faktor-faktor koagulasi plasma) berikatan dengan matriks ekstrasel subendotel yang sangat trombogenik. Trombosit yang tidak teraktivasi tidak menempel pada endotel normal, bahkan trombosit yang teraktivasi dihalangi adhesinya oleh prostasiklin (misalnya, prostaglandin  I2 (PGI2) dan nitrit oksida yang dihasilkan oleh endotel. Kedua mediator ini juga merupakan vasodilator kuat dan penghambat agregasi trombosit, yang sintesisnya oleh sel-sel endotel dirangsang oleh sejumlah faktor (misalnya trombin, sitokin) yang dihasilkan selama proses pembekuan. Sel-sel endotel juga menghasilkan adenosis difosfatase, yang mendegradasi adenosin difosfat (ADP) dan selanjutnya menghambat agregasi trombosit.

Efek inhibisi pada faktor-faktor pembekuan
Aksi ini dimediasi oleh faktor-faktor yang diekspresikan pada permukaan endotel, terutama molekul-molekul yang menyerupai heparin, trombomodulin dan penghambat Tissue factor pathway. Molekul-molekul yang menyerupai heparin bekerja secara tidak langsung sebagai kofaktor yang sangat meningkatkan inaktivasi trombin ( dan faktor-faktor pembekuan yang lain) melalui protein plasma antitrombin III. Trombomodulin bekerja secara tidak langsung dengan berikatan pada trombin, sehingga memodifikasi spesifisitas substrat trombin. Jadi bukannya memecah fibrinogen tetapi trombomodulin memecah dan mengaktivasi protein C, suatu antikoagulan. Protein C yang teraktivasi mencegah pembekuan dengan memecah dan menginaktifkan dua prokoagulan, yaitu faktpr Va dan faktor VIIIa, protein C memerlukan suatu kofakotr yaitu protein S, yang juga dihasilkan oleh sel-sel endotel. Akhirnya, tissue factor pathway inhibitor (TFPI) secara langsung menghambat kompleks faktor jaringan faktor VIIa dan faktor Xa.

Fibrinolisis. Sel-sel endotel menghasilkan Tissue-type plasminogen activator, suatu protease yang memecah plasminogen menjadi plasmin, plasmin kemudian memecah fibrin untuk mendegradasi trombi.

Sifat-sifat protrombotik endotelial yang terjejas atau teraktivasi
Aktivitas trombosit. Jejas endotel menyebabkan terjadinya kontra antara trombosit dengan matriks ekstrasel subendotel, yang kandungannya antara lain faktor von Willenbrand (vWF), suatu protein multimerik besar yang dihasilkan oleh sel endotel. vWF melekat kuat pada matriks ekstrasel melalui interaksinya dengan kolagen dan juga berikatan kuat dengan Gp1b, suatu glikoprotein yang ditemukan di permukaan trombosit. Interaksi-interaksi ini memungkinkan vWF berperan sebagai suatu lem molekular yang menempelkan trombosit erat-erat pada dinding pembuluh darah yang terkelupas atau tidak utuh.

Aktivasi faktor-faktor pembekuan. Sebagai respons terhadap sitokin (misalnya tumor necrosis factor (TNF) atau interleukin-1 (IL-1) atau produk-produk bakteri tertentu, termasuk endotoksin, sel-sel endotel memproduksi faktor jaringan yang merupakan aktivator pembekuan utama in vivo dan menurunkan ekspresi trombomodulin, Sel-sel endotel yang teraktivasi juga mengikat faktor pembekuan IXa dan Xa, yang memperkuatkan aktivitas katalitik dari faktor-faktor ini.


Efek-efek Antifibrinolitik. Sel-sel endotel yang teraktivasi mensekresi plasminogen activator inhibitors (PAIs), yang membatasi fibrinolisis dan oleh karenanya mengarahkan terjadinya trombosis.







Trombosit

Trombosit adalah fragmen-fragmen sel tidak berinti yang dilepaskan olej megakariosit sumsum tulang ke dalam aliran darah. Trombosit berperan penting dalam hemostasis normal dengan membentuk plak hemostatik yang menutup defek pembuluh darah, dan dengan merekrut dan mengkonsentrasikan faktor-faktor pembekuan yang teraktivasi. Fungsi trombosit tergantung pada beberapa reseptor glikoprotein keluarga integrin, suatu sitoskeleton kontraktil dan dua jenis granul sitoplasmik, yaitu :
  • Granul α yang mengekspresikan molekul adhesi selsctin-P pada membrannya dan mengandung fibrinogen, fibronektin, faktor V dan VIII. platelet factor-4 (suatu heparin-binding chemokine, platelet derived growth factor (PDGF), dan transforming growth factor-β (TGF-β)
  • Jisim-jisim padat/dense bodies (granul δ), yang mengandung nucleotida-nucleotida adenin (ADP dan ATP), kalsium berion, histamin, serotonin dan epinefrin.
Setelah jejas embuluh darah, trombosit berhadapan dengan kandungan-kandungan matriks ekstrasel (kolagen sangat penting) dan glikoprotein-glikoprotein adhesif, seperti vWF. Hal ini mendorong terjadinya sejumlah kejadian yang berakhir pada (1) adhesi trombosit, (2) aktivasi trombosit, dan (3) agregasi trombosit.

Adhesi Trombosit
Adhesi trombosit yang mengawali pembentukan bekuan bergantung pada vWF dan glikoprotein trombosit Gp1b.. Melalui stres (misalnya, pada daerah yang mengalir), vWF mengalami perubahan susunan, menjadi berbentuk memanjang yang memungkinkannya berikatan secara bersamaan dengan kolagen pada matriks skstrasel dan pada Gp1b trombosit. Pentingnya interaksi adhesig ini ditunjukkan pada keadaan defisiensi genetik vWF dan Gp1b, yang keduanya berakibat terjadinya kelainan perdarahan-penyakit von willebrand dan penyakit Bernard-Soulier.


Referensi : Buku Ajar Patologi Robbin. edisi 9, Singapore; Elsevier; 2015; hal 75-77

Friday, 18 November 2016

HEMORAGI

Hemoragi didefinisikan sebagai keluarnya darah dari pembuluh darah (ekstravasasi) yang bisa timbul pada berbagai keadaan. seperti yang telah dijelaskan sebelumnyam perdarahan kapiler bisa terjadi pada jaringan yang kongestif menahun. Risiko hemoragi ( yang sering terjadi setelah suatu trauma ringan) meningkat pada berbagai kelainan klinis yang kesemuanya disebut sebagai diatesis hemoragik. Trauma aterosklerosis, atau erosi dinding pembuluh darah oleh proses radang ataupun neoplastik juga dapat menyebabkan hemoragi, yang bisa cukup luas bila yang terkena adalah pembuluh darah arteri atau vena yang besar.

Hemoragi bisa tampak dalam berbagai penampilan dengan akibat klinis yang berbeda.

  • Hemoragi bisa eksternal atau terakumulasi di dalam jaringan sebagai hematoma, yang bisa bervariasi dari ringan (misalnya memar) hingga berat dan fatal (misalnya suatu hematoma retroperitoneal yang masif akibat ruptur dari aneurisma aorta/ dissecting aortic aneurysm. Terdapat berbagai istilah yang dipakai untuk perdarahan luas di dalam rongga-rongga tubuh yang berkaitan dengan lokasi hemotorak, hemoperikardium, hemoperitoneum atau       hemartrosis (pada sensi-sendi). perdarahan luas kadang-kadang bisa menimbulkan jaundice oleh penghancuran eritrosit dn hemoglobin yang masif.
  • Petekie merupakan hemoragi kecil (berdiameter 1 hingga 2 mm) pada kulit, membran mukosa dan permukaan serosum. penyebabnya antara lain rendahnya jumlah trombosit (trombositopenia), kelainan fungsi trombosit dan hilangnya dukungan dinding pembuluh darah, seperti pada defisiensi vitamin B.

  • Purpura merupakan hemoragi yang agak luas (3 mm hingga 5 mm). purpura dapat disebabkan oleh kelainan yang sama dengan yang menyebabkan petekie, seperti trauma, peradangan pembuluh darah (vasculitis) dan meningkatnya kerentanan pembuluh darah.
  • Ekimosis adalah hematoma subkutan yang lebih luas (1 cm hingga 2 cm) secara umum disebut memar. eritrosit yang ekstravasasi difagosit dan didegradasi oleh makrofag, perubahan warna memar yang karakteristik disebabkan oleh konversi enzimatik hemoglobin (berwarna merah-biru) menajdi bilirubin (berwarna hijau-biru) dan akhirnya menjadi hemosiderin (cokelat keemasan)

Kepentingan klinis setiap perdarahan tergantung pada jumlah darah yang hilang dan kecepatan perdarahan. kehilangan darah yang cepat hingga mencapai 20% volume darah atau kehilangan jumlah yang lebih besar secara perlahan-lahan, pada orag dewasa yang sehat hanya sedikit pengaruhnya, akan tetapi kehilangan yang lebih besar bisa menyebabkan syok hemoragik (hipovolemik). Lokasi timbulnya perdarahan juga penting, perdarahan yang berpengaruh kecil pada jaringan subkutis bisa menyebabkan kematian bila terjadi di otak. Akhirnya, kehilangan darah eksternal yang berulang dan menahun (seperti pada ulkus peptikum atau perdarahan menstruasi) sering berujung pada anemia defisiensi besi sebagai akibat dari hilangnya zat besi pada hemoglobin. sebaliknya, perdarahan internal (misalnya pada hematoma) tidak akan menyebabkan defisiensi besi oleh karena besi akan didaur ulang dari sel darah merah yang difagositosis.


Referensi : Buku Ajar Patologi Robbin. edisi 9, Singapore; Elsevier; 2015; hal 74-75

Sunday, 13 November 2016

INFARK

Infark adalah suatu daerah nekrosis iskemik yang disebabkan oleh tersumbatnya aliran darah pada jaringan yang terkena, proses dimana lesi demikian terbentuk dinamakan Infarksi, yang merupakan penyebab sangat penting penyakit-penyakit kritis dans ering terjadi. sceara kasar 40% dari semua kematian di Amerika serikat adalah akibat dari penyakit kardiovaskular, yang sebagian besar disebabkan oleh infark miokardium atau serebrum. Infark paru merupakan komplikasi klinis yang umum, infark usus sering fatal, dan nekrosis iskemik ekstremitas bagian distak (ganggren) menyebabkan morbiditas yang tinggi pada penderita diabetes.

Trombus arteriol atau emboli arteriol merupakan penyebab dari sebagian besar infark. Penyebab obstruksi arteri arteri yang lebih jarang antara lain vasospasme, pelebaran ateroma akibat perdarahan di dalam plak, dan kompresi pembuluh darah dari luar, seperti oleh tumor, suatu aneurisma aorta diseksi/dissecting nortic aneurysm, atau edema dalam daerah yang terbatas (misalnya, sindrom kompartemen tibia anterior).

Saturday, 12 November 2016

EDEMA


Sekitar 60% dari berat badan orang dewasa terdiri atas air dan dua pertiga diantaranya terletak di dalam sel/intrasel. sisanya terutama ditemukan pada kompartemen-kompartemen di luar sel/ekstrasel dalam bentuk cairan interstisial; hanya 5% dari air tubuh berada di dalam plasma darah. Edema adalah akumulasi cairan interstisial di dalam jaringan tubuh. cairan ekstravaskular juga dapat berkumpul ada rongga-rongga tubuh, seperti pada rongga pleura (hidroperikardium), atau rongga peritoneum (hidroperitoneum atau asites). Anasarka  adalah edema yang berat, generalisata dan ditandai oleh pembengkakan jaringan subkutan yang mencolok serta akumulasi cairan dalam rongga-rongga tubuh.

Pergerakan cairan antara pembuluh darah dan ruang interstisial diatur terutama oleh dua daya yang saling berlawanan, yaitu tekanan hidrostatik pembuluh darah dan tekanan osmotik koloid yang dihasilkan oleh protein plasma.

Dalam keadaan normal, aliran keluar cairan disebabkan oleh tekanan hidrostatik pada ujung arteiol dari mikrosirkulasi akan diimbangi oleh aliran masuk cairan, karena terdapat sedikit peningkatan tekanan osmotik pada ujung venula, sehingga hanya sedikit selisih cairan berupa aliran keluar, yang akan dialirkan oleh pembuluh-pembuluh limfe. baik peningkatan tekanan hidrostatik maupun penurunan tekanan osmotik kolid akan menyebabkan peningkatan pergerakan air ke dalam rongga interstisial. hal ini akan menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik jaringan dan akhirnya didapat keseimbangan yang baru. cairan edema yang berlebihan akan dibawah oleh aliran limfatik dan masuk kembali ke dalam aliran darah melalui duktus torasikus.

Cairan edema yang terakumulasi oleh meningkatnya tekanan hidrostatik atau penurunan koloid di dalam pembuluh darah merupakan transudat, yang mengandung sedikit protein, dan memiliki gravitasi yang khas, yaitu kurang dari 1,012. Sebaliknya, cairan edema yang terjadi oleh karena peningkatan permeabilitas pembuluh darah pada peradangan merupakan eksudat, kaya protein dengan gravitasi yang khas, lebih dari 1,020.

Patofisiologi penyebab edema

Peningkatan tekanan hidrostatik
Gangguan vena balik/venous return
·         Penyakit jantung kongestif
·         Pericarditis konstruktif
·         Asites (sirosis hepatis)
·         Obstruksi atau kompresi vena
-          Thrombosis
-          Tekanan eksternal (massa)
-          Inaktivitas ekstremitas bawah dengan ketergantungan lama

Pelebaran arteriol
  •  Panas
  • Disregulasi neurohormonal


Penurunan tekanan osmotic plasma (hypoproteinemia)
·         Protein-losing glomerulopathies (sindroma nefrotik)
·         Sirosis hepatis (asites)
·         Malnutrisi
·         Protein-losing gastroenteropathy
Obstruksi limfatik
  •     Peradangan
  •   Neoplastic
  •   Pascaoperasi
  •   Pascaradiasi


Retensi natrium
  •  Peningkatan garam berlebihan dengan insufisiensi ginjal
  • Peningkatan reabsorbsi natrium pada tubulus
-          Hipoperfusi ginjal
-          Peningkatan sekresi renin-angiotensin-aldosteron
Radang
  • ·         Radang akut
  • ·         Radang kronik
  • ·         angiogenesis


















































Peningkatan Tekanan Hidrostatik
Peningkatan tekanan intravaskular lokal dapat menyebabkan gangguan arus balik vena /venous return,  sebagai contoh adalah trombosis vena pada ekstremitas bawah dapat menyebabkan edema yang terbatas pada bagian distal tungkai bawah yang terkena. Peningkatan tekanan vena generalisata dengan akibat edema sistemik, terjadi paling sering pada gagal jantung kongestif.

Beberapa faktor dapat meningkatkan tekanan hidrostatik vena pada pasien gagal jantung kongestif. penurunan curah jantung menyebabkan hipoperfusi ginjal, yang memicu aksis renin-angiotensin-aldosteron dan menginduksi retensi natrium dan air (hiperaldosteronisme sekunder). pada pasien-pasien dengan fungsi jantung normal, adaptasi ini akan meningkatkan pengisian jantung/cardiac filling dan curah jantung/cardiac output, sehingga memperbaiki perfusi ginjal. akan tetapi jantung yang rusak seringkali tidak mampu meningkatkan curah jantung sebagai respon kompensatorik terhadap peningkatan volume darah. hal ini menimbulkan retensi cairan, peningkatan tekanan hidrostatik vena dan memperburuk edema. keadaan ini akan terus bergulir kecuali curah jantung diperbaiki atau retensi air dikurangi (misalnya dengan pembatasan garam atau terapi dengan diuretik atau antagonis aldosteron). pembatasan garam atau terapi diuretik/antagonis aldosteron juga bermanfaat dalam mengatasi edema generalisata yang diakibatkan oleh sebab lain, oleh karena itu hiperaldosteronisme sekunder merupakan gambaran umum dari edema generalisata.

Penurunan tekanan osmotik plasma
Dalam keadaan normal, hampir separuh dari seluruh protein plasma adalah albumin. oleh karena itu, keadaan-keadaan dimana tubuh kekurangan albumin merupakan penyebab tersering penurunan tekanan osmotik plasma, baik karena hilang dari sirkulasi ataupun karena sintesis yang tidak adekuat.

Pada sindrom nefrotik, pembuluh-pembuluh kapiler glomerulus yang rusak menjadi bocor, menyebabkan hilangnya albumin (dan protein plasma lain) masuk ke urin dan menimbulkan edema generalisata. penurunan sintesis albumin terjadi pada penyakit hati yang berat (misalnya sirosis) dan malnutrisi protein. apapun penyebabnya, kadar albumin yang rendah menyebabkan timbulnya edema, penurunan volume intravaskular, hipoperfusi ginjal dan hiperaldosteronisme sekunder. sayangnya, peningkatan retensi garam dai air oleh ginjal tidak hanya mengoreksi defisit volume plasma, namun juga memperburuk timbulnya edema, oleh karena menetapnya defek protein serum primer yang rendah.

Obstruksi limfatik
Kerusakan drainase limfatik dan konsekuensi limfedema biasanya disebabkan oleh obstruksi lokal pada keadaan peradangan atau neoplastik. sebagai contoh, infeksi parasit filariasis dapat menyebabkan edema masif ekstremitas bawah dan genitalia eksterna (disebut juga elefantiasis) dengan menimbulkan fibrosis pembuluh limfe inguinal dan kelenjar getah bening. infiltrasi dan obstruksi pembuluh limfe superfisial oleh sel-sel kanker payudara dapat menyebabkan edema kulit di atasnya. karakteristik kulit payudara yang terkena berupa alur-alur halus disebut kulit jeruk/ peau d'orange. limfedema juga dapat terjadi sebagai suatu komplikasi terapi. hal ini sering terlihat pada wanita-wanita dengan kanker payudara yang menjalani reseksi kelenjar getah bening aksila dan/radiasi. kedua hal ini dapat mengganggu dan menyumbat aliran limfe yang menyebabkan limfedema berat pada lengan.

Retensi natrium dan air
Retensi garam (terkait dengan air) yang berlebihan dapat menyebabkan edema melalui peningkatan tekanan hidrostatik (karena ekpansi volume intravaskular) dan penurunan tekanan osmotik plasma. retensi graram dan air yang berlebihan tampak pada berbagai jenis penyakit yang mengganggu fungsi ginjal, termasuk glomerulonefritis postreptokokal dan gagal ginjal mendadak.





MORFOLOGI
Edema mudah dikenali melalui pemeriksaan mikroskopik : pemeriksaan mikroskopik menunjukkan "clearing" dan pemisahan elemen-elemen matriks ekstrasel. walaupun semua jaringan bisa terkena, edema paling sering ditemukan pada jaringan subkutan, paru dan otak.

Edema subkutan bisa difus, namun biasanya lebih sering terakumulasi pada bagian-bagian tubuh yang berlokasi pada bagian-bagian tubuh yang berlokasi paling jauh dari jantung dan paling bawah, yang tekanan hidrostatiknya paling tinggi. Oleh karena itu, edema yang khas paling sering ditemukan pada tungkai bawah saat berdiri dan pada sakrum saat berbaring, suatu hubungan yan disebut edema dependen. Tekanan jari di atas jaringan subkutan yang edema menyingkirkan cairan insterstisial, dan meninggalkan lubang berebentuk seperti jari, hal ini disebut edema berlubang/ pitting edema. Edema yang disebabkan oleh disfungsi ginjal atau sindrom nefrotik sering bermanifestasu pertama kali di jaringan ikat longgar (misalnya kelopak, menyebabkan edema periorbital)


Referensi : Buku Ajar Patologi robbin. edisi 9, Singapore; Elsevier; 2015; hal 72-74

Saturday, 22 October 2016

RADANG AKUT

Respons radang akut adalah terkumpulnya leukosit dan protein plasma di tempat jejas. sampai di tempat tersebut, leukosit akan memusnahkan agen penyebab dan memulai proses pencernaan dan pembersihan jaringaan nekrotik.

Radang akut mempunyai dua komponen utama :

  • Perubahan vaskular, perubahan pada rongga kaliber pembuluh yang mengakibatkan petambahan aliran darah (vasodilatasi) dan perubahan pada dinding pembuluh yang memungkinkan protein plasma keluar dari pembuluh darah (peningkatan permeabilitas vaskular). juga terjadi pengaktifan sel endotel, yang menyebabkan perlekatan leukosit meningkat dan migrasi leukosit melalui dinding pembuluh
  • Akibat pada sel : terjadi emigrasi leukosit keluar dari sirkulasi dan akumulasi di tempat cedera ( pengumpulan sel), diikuti oleh pengaktifan leukosit, untuk mengeliminasi agen yang merugikan. leukosit utama pada radang akut adlah neutrofil (leukosit polimorfonukleus)
Stimulus radang akut 

Reaksi radang akut dapat dipicu oleh berbagai stimulus :
  • Infeksi ( bakteri, virus, jamur, parasit) merupakan penyebab radang tersering dan terpenting dalam klinis
  • Trauma (tumpul ata tajam) dan berbagai agen fisis dan kimia (misalnya jejas termal, seperti luka bakar atau luka pembekuan, radiasi, toksisitas akibat pengaruh kimia lingkungan) akan mencederai sel tubuh dan memicu reaksi radang
  • Nekrosis jaringan (akibat semua sebab), termasuk iskemia (seperti pada infark miokardium) dan jejas fisis dan kimia
  • Benda asing (Serpihan, kotoran, jahitan, deposit, kristal)
  • Reaksi imun (juga disebut reaksi hipersensitif) terhadap substansi lingkungan atau terhadap jaringan "sendiri". karena stimulus untuk respons radang ini tidak dapat dieliminasi atau dicegah, maka reaksi itu cenderung menetap, dengan gambaran reaksi radang kronik. istilah "penyakit  radang akibat reaksi imun" dipergunakan untuk kelompok kelainan ini.
Walaupun setiap stimulus menginduksi reaksi dengan gambaran tertentu, namun pada umumnya semua reaksi radang memberikan gambaran dasar yang sama.

Pengenalan Mikroba, Sel Nekrotik, dan Benda Asing

Pertanyaan dasar berkaitan dengan aktivasi respons tubuh adalah bagaimana sel itu mengenali agen yang dapat merugikan seeprti mikroba di dalam jaringan. diperkirakan bahwa mikroba dan sel mati mengeluarkan "sinyal bahaya" yang membedakan mereka dari jaringan normal dan terjadi mobilisasi respons tubuh. sekarang diketahui bahwa fagosit, sel dendrit (sel pada jaringan ikat dan organ yang menangkap mikroba dan memulai respons terhadapnya}, dan banyak sel lain, seperti sel epitel, mengekspresikan reseptor yang dibentuk untuk mampu merasakan keberadaan patogen infektif dan substansi yang dikeluarkan oleh sel mati. reseptor tersebut disebut " reseptor pengenalan struktur" sebab reseptor itu mengenal struktur (misalnya struktur molekul yang umumnya dijumpai pada banyak mikroba atau sel amti. dua kelompok reseptor ini yang terpenting ialah :

  • Toll-like receptor (TLR) merupakan sensor mikroba disebut kelompok Toll, dijumpai pada drosophila. ada sepuluh TLR mamalia yang mengenal produk bakteria (misalnya endotoksin dan DNA bakteri), virus (misalnya RNA rantai ganda) dan patogen lainnya. TLR terletak di membran plasma dan endosom, sehingga dapat mendeteksi mikroba ekstrasel dan yang telah dicerna. mereka dibantu oleh molekul sitoplasma dan molekul membran dari beberapa kelompok lain, yang mampu mengenali produk mikroba. TLR dan reseptor lain mengenali produk dari berbagai jenis mikroba sehingga membentuk pertahanan terhadap semua patogen infeksius.. pengenalan mikroba oleh reseptor ini mengaktifkan faktor tranksripsi yang memicu produksi sejumlah protein yang disekresi dan protein membran. termasuk protein tersebut adalah mediator radang, sitokin antivirus (interferon) dan protein yang memicu aktivitas limfosit dan respons imun yang lebih poten
  • Imflammasome merupakan komplek multi protein sitoplasma yang mengenali produk sel mati, seperti asam urat dan ATP ekstrasel, juga kristal dan beberapa produk mikroba. terpicunya imflammasome akan mengakibatkan enzim kaspase-1, yang akan memecah bentuk prekursor sitokin radanf interleukin-1β (IL-1β) menjadi bentuk biologis aktif. IL-1 merupakan mediator penting untuk pengumpulan leukosit pada respons radang akut, dan leukosit akan melakukan fagosistosis dan menghancurkan sel mati. penyakit sendi gout disebabkan oleh pengendapan kristal urat yang akan dicerna oleh fagosit dan mengaktifkan inflammasome, sehingga terbentuk produk IL-1 dan radang akut. Antagonis IL-1 meupakan terapi efektif pada kasus gout yang resisten terhadap pengobatan dengan anti radang konvensional. penelitian terakhir menunjukkan bahwa kristal kolesterol dan asam lemak bebas juga mengaktifkan inflammasome, sehingga diperkirakan bahwa IL-2 memainkan peran penting pada beberapa penyakit yang sering ditemukan misalnya atreosklerosis (dihubungkan dengan pengendapan kristal kolesterol pada dinding pembuluh darah) dan diabetes tipe 2. penemuan ini memberi harapan untuk pengobatan penyakit-penyakit ini dengan cara menghasilkan IL-1.

Perubahan Vaskular

Reaksi vaskular utama pada radang akut adalah peningkatan aliran darah yang terjadi sekunder akibat dilatasi pembuluh dan peningkatan permeabilitas vaskular, kedua hal ini dirancang untuk membawa sel darah dan protein menuju tempat infeksi atau tempat jejas. pada tahapa wal, stimulus yang merugikan seperti mikroba dihadapi oleh makrofag dan sel lain di jaringan ikat, kemudian akan diikuti reaksi avskular yang dipicu oleh interaksi ini dan akan mendominasi respons fase awal.

Perubahan Rongga Vaskular dan Pembuluh darah
Perubahan pada pembuluh terjadi segera setelah infeksi atau jejas namun kecepatan terjadinya berbeda, tergantung pada jenis dan beratnya stimulus awal peradangan.
  • Setelah vasokonstriksi sebentar (berlangsung hanya beberapa detik) terjadi vasodilatasi arteriol, yang mengakibatkan peningkatan aliran darah setempat sehingga pada bagian ujung daerah kapiler penuh berisi darah. ekspansi vaskular ini akan memberi warna merah (eritema) dan rasa panas merupakan tanda khas radang akut dan disebutkan sebagai dua tanda kardinal (utama) pada radang akut.
  • Pembuluh darah kecil menjadi lebih permeabel dan cairan kaya protein akan mengalir keluar ke jaringan ekstravaskular. hal ini mengakibatkan peningkatan konsentrasi sel darah merah di darah yang mengalir, sehingga meningkatkan viskositas darah dan memperlambat aliran darah. keadaan ini tampak secara mikroskopik tampak banyak pembuluh darah kecil yang melebar dan berisi penuh dengan sel darah merah dan disebut stasis.
sumber : Buku Ajar Patologi Robbins, edisi 9. halaman 31-33